Perjalanan di mulai kembali menuju pulau Borneo. Tujuan sekarang menuju Desa Pulau Pinang di Kecamatan Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara, Propinsi Kalimantan Timur. Perjalanan dari Bandung menggunakan pesawat terbang menuju Bandara di Balikpapan yang berubah namanya dari Sepinggan menjadi Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Mungkin perubahan nama bandara itu disebabkan renovasi bangunan bandara yang baru. Perjalanan pesawat terbang dari Bandung-Balikpapan memakan waktu 3 jam 1 menit dengan perbedaan waktu di Balikpapan lebih cepat 1 jam dengan di Bandung. Waktu itu belum di tambah dilay pesawat sama pengambilan bagasi yang biasanya memaka waktu lama juga.
Sesudah sampai Bandara Balikpapan saya menghubungi supir travel yang mau mengantar kami ke Desa Pulau Pinang. Saya pun janjian ketemuan di depan atm yang ada di bandara, sekalian mengambil uang buat persedian di perjalanan. Setelah ketemu sama supir travel kami pun menuju parkiran bandara dimana mobil pak supir di parkir. Mobil yang kami tumpangi adalah Avanza berwarna biru tua. Kami pun bergegas masuk dan langsung melunjur keluar Bandara menuju ke arah Kota Samarinda dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Pak supir pun sambil mencari penumpang lain siapa tahu ada yang searah tujuannya bersama kami. Ternyata sampai Samarinda tidak ada penumpang lagi selain kami berdua. Kami pun sampai Samarinda sudah setengah 5 sore waktu setempat. Kami pun diturunkan di tempat full travel lokasinya di sebelah islamic center kota Samarinda, kalau nama jalanya saya tidak tahu. Ternyata kami harus menginap dulu di Samarinda sebelum besok dilanjutkan kembali menuju Desa Pulau Pinang. Kami langsung mencari penginapan diantar dengan mobil travel berbeda yang besok mau mengantar kami ke Pulau Pinang, Akhirnya kami pun mendapatkan penginapan tidak jauh dari pasar Samarinda, namanya penginapan Barokah dan harganya pun lumayan murah, 200 ribu per malamnya. Pak Supir pun besok hari akan menjemput kami di penginapan sekitar jam 9 pagi. Kami segera menyimpan barang di penginapan dan langsung mencari makan karena perut sudah mulai kelaperan. Kami pun keluar penginapan untuk mencari makan dan kami pun beruntung tidak jauh dari penginapan ada yang berjualan sate madura. Kami pun langsung memesan sate kambing 10 tusuk, plus sama nasi dan es teh manis minumnya. Kami pun langsung melahap habis dengan cepat. Harga makanan di Kota Samarinda lumayan mahal di bandingkan dengan di Bandung. Makan satu porsi sate kambing sama es teh manis semuanya habis 35 ribu hampir bedanya sekitar 15-20 ribuan di bandingkan dengan di Bandung. Dan kami pun kembali ke penginapan untuk mandi-mandi dan beristirahat buat persiapan perjalan besok yang masih jauh.
Pagi hari sekitar jam 7 kami sudah bangun dan bersiap-siap untuk mandi bergantian. Dan penginapan pun memberikan kami sarapan pagi dengan sebungkus nasi kuning dan segelas teh manis hangat. Lumayanlah buat persiapan perut diperjalanan. Sekitar jam 9 lebih supir travel pun sudah menjemput kami di penginapan. Kami pun bergegas turun menuju tempat parkir dan memasukan barang-barang kami ke mobil travel. Ternyata di dalam mobil travel kami ini udah ada penumpang seorang wanita bersama anaknya duduk didepan sebelah pak sopir. Mobil travel yang sekrang bukan Avanza lagi melainkan APV. Mobil travel kami pun kembali jalan dan menjemput penumpang lain yang katanya sudah menunggu di dermaga perahu dekat pasar di Kota Samarinda. Setelah berputar-putar menjemput satu persatu penumpang lainya. Travel kami meninggalkan kota Samarinda sekitar jam 1 siang dan siap menuju Desa Pulau Pinang.Jarak tempuh Samarinda ke Pulau Pinang kurang lebih 5 jam.
Untuk menuju arah Desa Pulau Pinang kita akan melewati Kota Tenggarong dan menyebrang sungai Mahakam dengan menggunakan fery kecil. Fery ini terbuat dari kayu dan mermesinkan diesel sederhana, dengan kapasitas mobil 5-6 buah mobil. Per mobil biasanya diminta ongkos penyebrangan sebesar 50 ribu rupiah. Penyeberangan ini ada disebabkan oleh jembatan penghubung kota Tenggarong dengan Samarinda rumbuh seketika dan memakan lumayan banyak korban. Setelah melewati kot tenggarong kita pun akan menyebrang kembali sungai Mahakam lagi. Tapi kalu sekarang kita bisa melewati menggunakan jembatan yang baru jadi setahun kebelakang. Jembatan ini lumayan panjang karena buka sekedar melewati sungai Mahakam melainkan melewati rawa-rawa kurang lebih jaraknya sekitar 15, 3 km dan katanya terpanjang se Indonesia.
Setelah sampai Kecamtan kembang janggut penumpang pun sudah mulai ada yang turun dan diantar samapai rumahnya. Menuju Pulau Pinang dari Kembang Janggut tidak begitu jauh lagi kira-kira sekitar 1,5 jam lagi. Dan tidak terasa kami pun sampai ke Desa Pulau Pinang dan diantar ke alamat yang namanya Salon Timah tempat teman saya menginap.
Sesudah sampai Bandara Balikpapan saya menghubungi supir travel yang mau mengantar kami ke Desa Pulau Pinang. Saya pun janjian ketemuan di depan atm yang ada di bandara, sekalian mengambil uang buat persedian di perjalanan. Setelah ketemu sama supir travel kami pun menuju parkiran bandara dimana mobil pak supir di parkir. Mobil yang kami tumpangi adalah Avanza berwarna biru tua. Kami pun bergegas masuk dan langsung melunjur keluar Bandara menuju ke arah Kota Samarinda dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Pak supir pun sambil mencari penumpang lain siapa tahu ada yang searah tujuannya bersama kami. Ternyata sampai Samarinda tidak ada penumpang lagi selain kami berdua. Kami pun sampai Samarinda sudah setengah 5 sore waktu setempat. Kami pun diturunkan di tempat full travel lokasinya di sebelah islamic center kota Samarinda, kalau nama jalanya saya tidak tahu. Ternyata kami harus menginap dulu di Samarinda sebelum besok dilanjutkan kembali menuju Desa Pulau Pinang. Kami langsung mencari penginapan diantar dengan mobil travel berbeda yang besok mau mengantar kami ke Pulau Pinang, Akhirnya kami pun mendapatkan penginapan tidak jauh dari pasar Samarinda, namanya penginapan Barokah dan harganya pun lumayan murah, 200 ribu per malamnya. Pak Supir pun besok hari akan menjemput kami di penginapan sekitar jam 9 pagi. Kami segera menyimpan barang di penginapan dan langsung mencari makan karena perut sudah mulai kelaperan. Kami pun keluar penginapan untuk mencari makan dan kami pun beruntung tidak jauh dari penginapan ada yang berjualan sate madura. Kami pun langsung memesan sate kambing 10 tusuk, plus sama nasi dan es teh manis minumnya. Kami pun langsung melahap habis dengan cepat. Harga makanan di Kota Samarinda lumayan mahal di bandingkan dengan di Bandung. Makan satu porsi sate kambing sama es teh manis semuanya habis 35 ribu hampir bedanya sekitar 15-20 ribuan di bandingkan dengan di Bandung. Dan kami pun kembali ke penginapan untuk mandi-mandi dan beristirahat buat persiapan perjalan besok yang masih jauh.
Pagi hari sekitar jam 7 kami sudah bangun dan bersiap-siap untuk mandi bergantian. Dan penginapan pun memberikan kami sarapan pagi dengan sebungkus nasi kuning dan segelas teh manis hangat. Lumayanlah buat persiapan perut diperjalanan. Sekitar jam 9 lebih supir travel pun sudah menjemput kami di penginapan. Kami pun bergegas turun menuju tempat parkir dan memasukan barang-barang kami ke mobil travel. Ternyata di dalam mobil travel kami ini udah ada penumpang seorang wanita bersama anaknya duduk didepan sebelah pak sopir. Mobil travel yang sekrang bukan Avanza lagi melainkan APV. Mobil travel kami pun kembali jalan dan menjemput penumpang lain yang katanya sudah menunggu di dermaga perahu dekat pasar di Kota Samarinda. Setelah berputar-putar menjemput satu persatu penumpang lainya. Travel kami meninggalkan kota Samarinda sekitar jam 1 siang dan siap menuju Desa Pulau Pinang.Jarak tempuh Samarinda ke Pulau Pinang kurang lebih 5 jam.
Untuk menuju arah Desa Pulau Pinang kita akan melewati Kota Tenggarong dan menyebrang sungai Mahakam dengan menggunakan fery kecil. Fery ini terbuat dari kayu dan mermesinkan diesel sederhana, dengan kapasitas mobil 5-6 buah mobil. Per mobil biasanya diminta ongkos penyebrangan sebesar 50 ribu rupiah. Penyeberangan ini ada disebabkan oleh jembatan penghubung kota Tenggarong dengan Samarinda rumbuh seketika dan memakan lumayan banyak korban. Setelah melewati kot tenggarong kita pun akan menyebrang kembali sungai Mahakam lagi. Tapi kalu sekarang kita bisa melewati menggunakan jembatan yang baru jadi setahun kebelakang. Jembatan ini lumayan panjang karena buka sekedar melewati sungai Mahakam melainkan melewati rawa-rawa kurang lebih jaraknya sekitar 15, 3 km dan katanya terpanjang se Indonesia.
Setelah sampai Kecamtan kembang janggut penumpang pun sudah mulai ada yang turun dan diantar samapai rumahnya. Menuju Pulau Pinang dari Kembang Janggut tidak begitu jauh lagi kira-kira sekitar 1,5 jam lagi. Dan tidak terasa kami pun sampai ke Desa Pulau Pinang dan diantar ke alamat yang namanya Salon Timah tempat teman saya menginap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar