Suara kendaraan mulai ramai terdengar,
udara yang tadinya dingin mulai sedikit menjadi hangat karena matahari mulai
meninggi. Halte bercat abu-abu ini mulai
di datangi para penumpang yang hendak menunggu kendaraan umum dari mulai angkutan
kota, bis kota dan taksi. ‘’Ah…tak nyeyak juga tidur disini, berisik sekali,
dingin pula, padahal sudah memakai selimut tebal berbahan karung’’ gerutu sang
penghuni halte.
Pagi segera berlalu berlahan-lahan
panas matahari mulai menyengat dan suara kendaraan makin berisik. Sang penghuni
halte terpaksa bangun dari tempat tidurnya sambil membereskan karung-karung
selimut yang tebal bekas tadi malam. ‘’ternyata sudah banyak orang di halte
ini, tapi keliatannya kalian masih pada ngantuk?” Sang penghuni halte itu
menggumam kembali. Dia segera pergi dari halte itu, entah mau kemana dia akan
pergi. ‘’Halte kota ini masih banyak,
pasti akan banyak suasana baru di halte lainnya’’ Dia berjalan terus menuju
halte berikutnya . Di sepanjang jalan sambil mengisi ke sepian, sang penghuni
halte itu memunguti sampah-sampah plastik yang kiranya bisa di jual agar
mendapatkan uang buat membeli makanan.
Baju begitu kotor, robek dimana-mana,
muka yang begitu lusuh dan menghitam, aroma tubuh yang kurang enak untuk di
hirup karena jarang sekali sang penghuni halte mandi. Berkeliaran di panasnya
kota di siang hari tak menyurutkannya untuk terus mencari sampah-sampah
pelastik untuk di jual. Sang penghuni halte tak pernah berpikir untuk pulang ke kampung
halamannya sebelum menjadi orang yang berhasil mendapakatkan sesatus yang di
banggakan di kampungnya. Tak peduli dia hanya tidur di halte-halte kota
sepanjang malam dan berkeliaran di tengah kota yang terik hanya untuk bisa
menjual sampah-sampah plastik.
Sepanjang jalan kota sang penghuni
halte terus berjalan menyelusuri ruas kota, sesekali dia pungut sampah-sampah
pelastik seperti bekas botol minuman dan gelas minuman kemasan. Sambil sesekali
melihat ke tempat sampah siapa tau ada makanan bekas yang masih bisa di makan,
perut dia memang sudah terasa lapar karena matahari sudah mulai meninggi.
“Lapar sekali perut ini, mudah-mudahan tempat sampah di depan ada makanannya”
lalu dia bergegas berjalan dengan cepat ke tempat sampah itu, dari ke jauhan
sudah terlihat ada orang membuang bekas makanannya. “Akhirnya berutung juga
makanan ini masih bagus kayanya” sang
penghuni halte pun bisa menghentikan bunyi perutnya dengan sisa makanan yang di
buang orang. Ternyata isinya nasi kuning komplit dan masih ada ayam bumbunya
walaupun ada bekas gigitan sedikit di ayam tersebut. “lumayan banyak juga nasi
kuning ini, bisa membuat aku tidur pulas nanti malam”.
Senja tiba sang penghuni halte mulai
mecari-cari halte buat tidur malam
sekarang. Walaupun tadi siang dia sudah bisa makan namun sang penghuni halte
merasa perutnya kelaparan kembali. Suhu udara di kota tua memang lagi dingin
kira-kira 18ᵒC meskipun
hujan tidak turun. Mungkin gara-gara udara yang dingin sang penghuni itu merasa
kelaparan kembali. Tak lama dia menemukan halte buat tidur malam sekarang, dia membersihkan
tempatnya biar tidak terlalu kotor karena ada bekas tanah dari percikan air hujan yang sudah lama. Dia baringkan tubuhnya sambil
mengeluarkan karung satu-satunya buat di jadikan selimut. “lelah sekali hari
ini, perut ini tidak bisa kompromi kalau masih lapar tidur pun susah” gumam
sang penghuni halte.
Tak lama kemudian ada sekelompok anak
muda memakai motor dan mobil yang tiba-tiba berhenti di halte tersebut.
Beberapa orang dari mereka turun dari kendaraannya menuju si sang penghuni
halte sambil membawa bungkusan makanan. “Pak bangun dulu, ini ada nasi dari
kami siapa tau bapak belum makan” kata salah seorang dari mereka. Lalu sang
penghuni halte pun bangun
“terima kasih banyak nak, kebetulan
sekali hari ini belum makan, semoga makin banyak rezekinya”
“ Aminn…..pak” kompak kata sekelompok
anak muda tersebut. Tidak lupa mereka minta di foto bareng buat di upload di media
social mereka.
Kebetulan memang sang penghuni halte
itu dapat makan lagi karena kalau malam minggu ada sekelompok anak muda di kota
tua sering membagikan nasi bungkus untuk di bagikan kepada orang-orang yang
berada di pinggir jalan. Mereka menamakan kelompoknya Berbagi Nasi, siapa pun
boleh ikutan di sana tinggal bawa nasi dari rumah, ngumpul di tempat yang telah
di tentukan mereka lalu jalan bareng untuk membagikannya.
Memang kota tua banyak dengan anak
mudanya yang kreatif, apalagi walikotanya yang sekarang, masih muda dan pecinta
taman. Sampai banyak taman-taman di kota ini di buat segmentif dengan di kasih
nama lumayan cukup unik seperti taman jomblo dan taman banci.
Sang penghuni halte merasa senang
karena si perut kelaparan sekarang sudah
berhenti berbunyi. Tidur pasti akan terasa nyenyak. Entah kenapa sang penghuni
halte teringat kepada istri dan anaknya di kampung halamannya. Sudah 7 bulan belum
pulang ke kampung halamannya untuk menengok mereka. Bulan sekarang dia belum
mentransfer uang ke istrinya di kampung. Jangan salah walaupun sekedar sang penghuni
halte dan pemulung plastik bekas kalau rekening dan atm mereka punya. “lupa,
besok aku transfer uang dulu buat istri di kampung” gumam sang penghuni halte.
Tak lama kemudiaan dia tertidur nyeyak
di halte, perut kenyang dan uang siap di transfer besok ke istrinya di kampung.
Mungkin Istri dan anaknya di kampung
membayangkan ayah tercintanya bekerja di tempat yang menyenangkan dengan tidur
di kasur empuk dan makan dengan menu yang enak. Entah apakah benar istri dan
anaknya itu mengetahui keadaan ayah tercintanya, mempunyai kehidupan di kota
yang sangat menyedihkan. Karena belum sama sekali istri dan anaknya menengok
ayahnya di kota besar itu. Hanya untuk membanggakan keluarganya di kampung agar
menjadi orang yang dihargai tetangganya. Dia rela untuk makan makanan bekas di
tempat sampah dan tidur hanya di halte bis yang beralaskan kardus.
Hidup sang penghuni halte memang
berbeda dan tak biasa di banding cara hidup kebanyakan di kota besar ini. Di
kota ia membanting tulang mencari uang buat di kampungnya, merelakan tiduran di
halte-halte kota dengan makan seadanya dan terkadang makanan bekas di tempat
sampah. Hanya untuk mensejajarkan gaya hidup di kampung dengan tetangga sekitar
yang terpengaruhi hidup orang kota. Mereka mengukur kebahagian itu dengan
kedaraan pribadi dan gadget yang lagi popular.
Ironis memang melihat sang penghuni
halte dan gaya hidup orang di kampung halamanya. Terbawa arus kota yang selalu
menunjukan ke banggaan dirinya sendiri mesti itu dipaksakan. Gaya hidup orang
kampung yang dulu selalu mengedepankan kesederhanaan dan dapat menerima hidup
apa adanya sekarang mulai sedikit demi sedikit luntur. Termakan gaya hidup
orang kota yang lebih cenderung tidak memiliki rasa puas sama sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar