Senin, 20 April 2015

Manusia Halte

Suara kendaraan mulai ramai terdengar, udara yang tadinya dingin mulai sedikit menjadi hangat karena matahari mulai meninggi.  Halte bercat abu-abu ini mulai di datangi para penumpang yang hendak menunggu kendaraan umum dari mulai angkutan kota, bis kota dan taksi. ‘’Ah…tak nyeyak juga tidur disini, berisik sekali, dingin pula, padahal sudah memakai selimut tebal berbahan karung’’ gerutu sang penghuni halte.

Pagi segera berlalu berlahan-lahan panas matahari mulai menyengat dan suara kendaraan makin berisik. Sang penghuni halte terpaksa bangun dari tempat tidurnya sambil membereskan karung-karung selimut yang tebal bekas tadi malam. ‘’ternyata sudah banyak orang di halte ini, tapi keliatannya kalian masih pada ngantuk?” Sang penghuni halte itu menggumam kembali. Dia segera pergi dari halte itu, entah mau kemana dia akan pergi.  ‘’Halte kota ini masih banyak, pasti akan banyak suasana baru di halte lainnya’’ Dia berjalan terus menuju halte berikutnya . Di sepanjang jalan sambil mengisi ke sepian, sang penghuni halte itu memunguti sampah-sampah plastik yang kiranya bisa di jual agar mendapatkan uang buat membeli makanan.

Baju begitu kotor, robek dimana-mana, muka yang begitu lusuh dan menghitam, aroma tubuh yang kurang enak untuk di hirup karena jarang sekali sang penghuni halte mandi. Berkeliaran di panasnya kota di siang hari tak menyurutkannya untuk terus mencari sampah-sampah pelastik untuk di jual. Sang penghuni halte  tak pernah berpikir untuk pulang ke kampung halamannya sebelum menjadi orang yang berhasil mendapakatkan sesatus yang di banggakan di kampungnya. Tak peduli dia hanya tidur di halte-halte kota sepanjang malam dan berkeliaran di tengah kota yang terik hanya untuk bisa menjual sampah-sampah plastik.

Sepanjang jalan kota sang penghuni halte terus berjalan menyelusuri ruas kota, sesekali dia pungut sampah-sampah pelastik seperti bekas botol minuman dan gelas minuman kemasan. Sambil sesekali melihat ke tempat sampah siapa tau ada makanan bekas yang masih bisa di makan, perut dia memang sudah terasa lapar karena matahari sudah mulai meninggi. “Lapar sekali perut ini, mudah-mudahan tempat sampah di depan ada makanannya” lalu dia bergegas berjalan dengan cepat ke tempat sampah itu, dari ke jauhan sudah terlihat ada orang membuang bekas makanannya. “Akhirnya berutung juga makanan ini masih bagus kayanya”  sang penghuni halte pun bisa menghentikan bunyi perutnya dengan sisa makanan yang di buang orang. Ternyata isinya nasi kuning komplit dan masih ada ayam bumbunya walaupun ada bekas gigitan sedikit di ayam tersebut. “lumayan banyak juga nasi kuning ini, bisa membuat aku tidur pulas nanti malam”.

Senja tiba sang penghuni halte mulai mecari-cari halte  buat tidur malam sekarang. Walaupun tadi siang dia sudah bisa makan namun sang penghuni halte merasa perutnya kelaparan kembali. Suhu udara di kota tua memang lagi dingin kira-kira 18C meskipun hujan tidak turun. Mungkin gara-gara udara yang dingin sang penghuni itu merasa kelaparan kembali. Tak lama dia menemukan halte buat tidur malam sekarang, dia membersihkan tempatnya biar tidak terlalu kotor karena ada bekas tanah dari percikan air hujan  yang sudah lama. Dia baringkan tubuhnya sambil mengeluarkan karung satu-satunya buat di jadikan selimut. “lelah sekali hari ini, perut ini tidak bisa kompromi kalau masih lapar tidur pun susah” gumam sang penghuni halte.

Tak lama kemudian ada sekelompok anak muda memakai motor dan mobil yang tiba-tiba berhenti di halte tersebut. Beberapa orang dari mereka turun dari kendaraannya menuju si sang penghuni halte sambil membawa bungkusan makanan. “Pak bangun dulu, ini ada nasi dari kami siapa tau bapak belum makan” kata salah seorang dari mereka. Lalu sang penghuni halte pun bangun

“terima kasih banyak nak, kebetulan sekali hari ini belum makan, semoga makin banyak rezekinya”
“ Aminn…..pak” kompak kata sekelompok anak muda tersebut. Tidak lupa mereka  minta di foto bareng buat di upload di media social mereka.

Kebetulan memang sang penghuni halte itu dapat makan lagi karena kalau malam minggu ada sekelompok anak muda di kota tua sering membagikan nasi bungkus untuk di bagikan kepada orang-orang yang berada di pinggir jalan. Mereka menamakan kelompoknya Berbagi Nasi, siapa pun boleh ikutan di sana tinggal bawa nasi dari rumah, ngumpul di tempat yang telah di tentukan mereka lalu jalan bareng untuk membagikannya.
Memang kota tua banyak dengan anak mudanya yang kreatif, apalagi walikotanya yang sekarang, masih muda dan pecinta taman. Sampai banyak taman-taman di kota ini di buat segmentif dengan di kasih nama lumayan cukup unik seperti taman jomblo dan taman banci.

Sang penghuni halte merasa senang karena si perut kelaparan  sekarang sudah berhenti berbunyi. Tidur pasti akan terasa nyenyak. Entah kenapa sang penghuni halte teringat kepada istri dan anaknya di kampung halamannya. Sudah 7 bulan belum pulang ke kampung halamannya untuk menengok mereka. Bulan sekarang dia belum mentransfer uang ke istrinya di kampung. Jangan salah walaupun sekedar sang penghuni halte dan pemulung plastik bekas kalau rekening dan atm mereka punya. “lupa, besok aku transfer uang dulu buat istri di kampung” gumam sang penghuni halte. Tak lama kemudiaan dia  tertidur nyeyak di halte, perut kenyang dan uang siap di transfer besok ke istrinya di kampung.

Mungkin Istri dan anaknya di kampung membayangkan ayah tercintanya bekerja di tempat yang menyenangkan dengan tidur di kasur empuk dan makan dengan menu yang enak. Entah apakah benar istri dan anaknya itu mengetahui keadaan ayah tercintanya, mempunyai kehidupan di kota yang sangat menyedihkan. Karena belum sama sekali istri dan anaknya menengok ayahnya di kota besar itu. Hanya untuk membanggakan keluarganya di kampung agar menjadi orang yang dihargai tetangganya. Dia rela untuk makan makanan bekas di tempat sampah dan tidur hanya di halte bis yang beralaskan kardus.

Hidup sang penghuni halte memang berbeda dan tak biasa di banding cara hidup kebanyakan di kota besar ini. Di kota ia membanting tulang mencari uang buat di kampungnya, merelakan tiduran di halte-halte kota dengan makan seadanya dan terkadang makanan bekas di tempat sampah. Hanya untuk mensejajarkan gaya hidup di kampung dengan tetangga sekitar yang terpengaruhi hidup orang kota. Mereka mengukur kebahagian itu dengan kedaraan pribadi dan gadget yang lagi popular.

Ironis memang melihat sang penghuni halte dan gaya hidup orang di kampung halamanya. Terbawa arus kota yang selalu menunjukan ke banggaan dirinya sendiri mesti itu dipaksakan. Gaya hidup orang kampung yang dulu selalu mengedepankan kesederhanaan dan dapat menerima hidup apa adanya sekarang mulai sedikit demi sedikit luntur. Termakan gaya hidup orang kota yang lebih cenderung tidak memiliki rasa puas sama sekali.

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar