Rabu, 08 Juli 2015

SANTO PENDEKAR DUNIA MAYA


Matahari  terasa panas menyinari kedua mata di dalam ruangan kamar ukuran 3x4 meter dengan tiga tempat tidur terdiri dari satu kasur besar  dan dua kasur kecil. Terdapat juga  lemari pakaian dan satu meja rias dengan bentuk cermin yang unik.

Pagi membangunkan Santo dengan tergesa-gesa oleh  sinar matahari yang memaksa membuka matanya. Padahal baru sekitar jam 4 pagi Santo baru tidur, semalam Santo bergadang bersama teman-temannya sambil bercerita dan diskusi soal keseharian sampai area politik pun di perbincangkan.

Santo mahasiswa semester akhir yang entah kapan berakhir kuliahnya. Dia sangat menyukai media sosial di jejaring internet, hampir setiap menit selalu mengubah statusnya agar menjadi populer di jejaring sosial tersebut. Statuanya pun dari mulai hal yang remeh temeh seperti “aku baru makan” sampai hal yang sok penting sekalipun dia tulis, meskipun itu hanya ikut-ikutan saja karena biasanya Santo tidak pernah tahu apa sebenarnya pokok masalahnya seperti “mari  kita dukung pelangi-pelangi”.

Mata Santo masih ngantuk tapi terpaksa dia mesti bangun pagi. Dia pun turun dari tempat tidur langsung menuju ruangan dibawah tempat berdiskusi dan santai-santai. Hal pertama yang Santo lakukan adalah membuka media sosial untuk merubah statusnya walaupun hanya mau bilang “aku baru bangun”.

Rumah bercat putih dengan dua lantai yang berada di daerah tusuk sate dengan mitos angker nya. Ruangannya terdiri dari ruang tamu yang di buat lebih tinggi 60 cm dari ruang keluarga, empat  kamar tidur 2 di atas dan 2 di bawa , tiga kamar mandi 1 di atas dan 2 di bawah serta  terdapat taman kecil di belakang bersebelahan dengan dapur biasa untuk membikin kopi.

Santo tinggal di rumah ini kalau lagi berada di Bandung yang merupakan tempat kantor penerbit buku indie di Bandung. Rumah ini terbuka buat siapa saja yang berkenan ingin mengunjunginya, dari  yang hanya sekedar melihat-lihat buku, ngobrol sambil ngopi ataupun nginap disana lama pun tak masalah. Pemilik  penerbit buku ini sangat baik sampai dia pernah berkata “ ini milik rakyat, siapa pun boleh disini” sambil senyum khasnya.

Santo pun pergi ke dapur untuk membuat segelas kopi dengan menyalakan kompor gas untuk memasak air biar mendidih. Karena kopi akan terasa wangi dan enak apabila bubuk kopi itu di seduh dengan air yang baru mendidih dan dibiarkan sekitar lima menit sebelum di minum.

Ternyata sudah ada yang bangun duluan selain Sato di rumah itu. Tak lama sehabis membuat kopi terdengar suara yang memukul pintu pagar depan dengan gembok yang tergantung, “ternyata pagi-pagi begini ada tamu datang” kata Santo sambil bergumam. Santo pun menuju pintu pagar untuk meliat siapa yang datang. Tiba-tiba santo kaget begitu saja setelah melihat siapa tamu yang berada di luar pagar rumah itu. Santo pun buru-buru langsung membuka pintu pagar rumah dengan muka merasa bersalah.  Ternyata tamu itu adalah pacar Santo yang dari Bogor. Santo sudah dari kemaren malam chatting sama pacanya, dan sudah berjanji untuk menjemput dia di terminal Leuwi Panjang, hal hasil Santo pun lupa dan baru ingat setelah pacanya sudah berada di depan pagar rumah itu.

Santo memang unik hal yang nyata dia lupakan sedangkan hal yang maya dia selalu mengingatnya. Karakternya pun sangat menarik ketika berada di dunia maya. Santo mengaku seorang seniman serba bisa dari mulai mebuat lukisan, patung sampai penulis handal. Santo selalu memasang karya-karyanya di media sosial dan hampir setiap hari dia selalu menulis kata-kata indah  seperti puisi atau kata-kata yang bisa membakar gelora anak muda seperti sumpah serapah yang membuat dia seperti jagoan.

Santo hanya salah satu anak muda yang menginginkan pengakuan dengan secara instan melalui dunia maya.  Membuat santo merasa terkenal dengan orang-orang yang tek pernah dia kenal. Santo memang terkenal di dunia maya tapi dia tak pernah mengenal pacar sendiri, tetangga dan lingkungan sekitarnya. Mungkin Santo pun tak pernah mengenal istilah “rumput tetangga lebih hijau dari pada rumut yang berada di rumah”. 









Tidak ada komentar:

Posting Komentar