Kamis, 01 Desember 2016

Lereng Anteng

Sabtu lalu aku pergi ke sebuah café dengan istriku di daerah Cihumbuleuit. Tempatnya cukup sejuk untuk merasakan segarnya udara kota Bandung. Cafenya dibuat di lereng dengan membentuk tiga tingkat. Paling bawah dibuat tenda-tenda transparan berjejer. Di tingkat dua hanya ada 3 meja besar dan kursi dari kayu, cukup untuk memuat 30 orang. Paling atas terdapat kursi-kursi empuk dan sofa malas yang akan membuat para pengunjung ingin berlama-lama. Apalagi disuguhi pemandangan perbukitan dan pohon hijau yang akan membuat mata kita terasa segar kembali. Café ini diberi nama Lereng Anteng.

Aku dan istri langsung pesan kopi dan roti bakar kacang. Karena kita berdua selalu penasaran ingin merasakan aroma kopi di café baru. Istriku memesan kopi ala Turki sedangkan aku kopi Toraja dengan seduhan V 60. Rasa kopi toraja aku pesan sesuai dengan yang aku harapkan. Aroma khas kopi Torajanya terjaga dengan cita rasa kopi yang akan membuat kita bersemangat. Sedangkan kopi ala Turki istriku, rasanya unik dengan ada sedikit aroma rempah-rempah di dalam kopinya. Apalagi minum kopinya ditemani roti bakar kacang. Terasa rutinitas kerja yang membosankan itu hilang hanya dengan secangkir kopi di Lereng Anteng. 
 Kita berdua lumayan lama menikmati kopi, roti bakar dan rokok kretek di Lereng Anteng. Pengunjung di sini selalu ramai dari mulai rombongan keluarga, teman kampus atau pasangan yang berdua-duaan di tenda transparan. Istriku kalau berkunjung ke sebuah tempat selalu membuat foto dengan memakai perbandingan mainan dinosaurusnya. Padahal tempat ini cocok sekali untuk foto selfie. Mungkin semua pengunjung yang kesini selalu menyempatkan foto selfie. Sedangkan kita hanya menikmati kopi dan pemandangannya café Lereng Anteng. Hanya sekali-kali kita membuat foto, itu juga bukan foto selfie melainkan hanya memotret foto keadaan di café Lereng Anteng saja. Karena menurut kita berdua sayang kalau kehilangan momen menikmati suasana ini hanya dengan kesibukan foto selfie. Pasti semuanya akan terasa hambar dan kurang bermakna.



Awan hitam sudah mulai berkumpul, mungkin sebentar lagi hujan. Kita berdua bergegas untuk meninggalkan café Lereng Anteng. Pergi ke parkiran motor dan segera pulang dengan jalan menurun sebelum hujan turun membasahi. Aroma kopi Lereng Anteng itu masih terasa di sepanjang perjalanan pulang. Mungkin esok atau lusa kita berdua akan kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar