Sabtu lalu aku pergi ke sebuah café
dengan istriku di daerah Cihumbuleuit. Tempatnya cukup sejuk untuk merasakan
segarnya udara kota Bandung. Cafenya dibuat di lereng dengan membentuk tiga
tingkat. Paling bawah dibuat tenda-tenda transparan berjejer. Di tingkat dua
hanya ada 3 meja besar dan kursi dari kayu, cukup untuk memuat 30 orang. Paling
atas terdapat kursi-kursi empuk dan sofa malas yang akan membuat para
pengunjung ingin berlama-lama. Apalagi disuguhi pemandangan perbukitan dan
pohon hijau yang akan membuat mata kita terasa segar kembali. Café ini diberi
nama Lereng Anteng.
Aku dan istri langsung pesan kopi dan
roti bakar kacang. Karena kita berdua selalu penasaran ingin merasakan aroma
kopi di café baru. Istriku memesan kopi ala Turki sedangkan aku kopi Toraja
dengan seduhan V 60. Rasa kopi toraja aku pesan sesuai dengan yang aku
harapkan. Aroma khas kopi Torajanya terjaga dengan cita rasa kopi yang akan
membuat kita bersemangat. Sedangkan kopi ala Turki istriku, rasanya unik dengan
ada sedikit aroma rempah-rempah di dalam kopinya. Apalagi minum kopinya
ditemani roti bakar kacang. Terasa rutinitas kerja yang membosankan itu hilang
hanya dengan secangkir kopi di Lereng Anteng.
Kita berdua lumayan lama menikmati
kopi, roti bakar dan rokok kretek di Lereng Anteng. Pengunjung di sini selalu
ramai dari mulai rombongan keluarga, teman kampus atau pasangan yang
berdua-duaan di tenda transparan. Istriku kalau berkunjung ke sebuah tempat
selalu membuat foto dengan memakai perbandingan mainan dinosaurusnya. Padahal
tempat ini cocok sekali untuk foto selfie. Mungkin semua pengunjung yang kesini
selalu menyempatkan foto selfie. Sedangkan kita hanya menikmati kopi dan
pemandangannya café Lereng Anteng. Hanya sekali-kali kita membuat foto, itu
juga bukan foto selfie melainkan hanya memotret foto keadaan di café Lereng
Anteng saja. Karena menurut kita berdua sayang kalau kehilangan momen menikmati
suasana ini hanya dengan kesibukan foto selfie. Pasti semuanya akan terasa
hambar dan kurang bermakna.
Awan hitam sudah mulai berkumpul,
mungkin sebentar lagi hujan. Kita berdua bergegas untuk meninggalkan café Lereng
Anteng. Pergi ke parkiran motor dan segera pulang dengan jalan menurun sebelum
hujan turun membasahi. Aroma kopi Lereng Anteng itu masih terasa di sepanjang
perjalanan pulang. Mungkin esok atau lusa kita berdua akan kembali.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar